BERANDATENTANG KAMIMENDAFTARGERAIADVERTISEREKANAN
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

BERANDA
GERAI
NASIONAL
INTERNASIONAL
FOKUS
TEKSTUR
SANTIK
WAWANCARA
PROFIL
KRITIK
VIDEO & ART
WARTA KAMPUS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
TILIK
WARTA PASAR
REFLEKSI
JADWAL KEGIATAN
FORUM








Baner
REFLEKSI
SURVEI 2010: TENTANG KURATOR KITA PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 20 Desember 2010 17:31
MENJELANG AKHIR TAHUN BEBERAPA PERTANYAAN-PERTANYAAN SEPUTAR KINERJA KURATOR PUN MUNCUL. TAK DAPAT DISANGKAL BAHWA PERAN KURATOR CUKUP SIGINIFIKAN DALAM MEMBENTUK SERTA MENGARAHKAN PERKEMBANGAN DUNIA SENIRUPA INDONESIA.

Berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana, siapakah kurator yang paling giat di tahun 2010. Kami pun berusaha unutk memperoleh jawaban pertanyaan ini diantaranya melalui penyebaran kuisioner ke berbagai kurator dan juga penulis senirupa yang kerap kali menjadi kurator untuk beberapa kesempatan.  Sayangnya memang para kurator yang menjawab kuisioner tidaklah sebanyak yang diharapkan sehingga data-data pameran mereka pun harus dilengkapi dengan sumber lain seperti katalog pameran dan juga situs-situs galeri di Indonesia.

Beberapa hal yang perlu dicermati sepanjang tahun 2010 ini. Pertama adalah kecenderungan hubungan yang cukup erat antara galeri dan kurator sehingga ada semacam “pemetaan” afiliasi kurator tertentu dengan galeri tertentu pula. Hal tersebut wajar mengingatk kerjasama antara galeri dan kurator adalah kerjasama yang berdasarkan trust atau kepercayaan dan juga kesesuaian. Kedua adalah tak banyaknya kurator perempuan yang aktif menyelenggarakan pameran di tahun ini selain Alia Swastika. Hal ini juga perlu diingat minimnya jumlah kurator perempuan di ranah senirupa Indonesia. Ketiga adalah beberapa nama baru yang muncul sebagai kurator muda yang menggawangi beberapa proyek seperti Sutrisno, Grace Samboh (bekerjasama dengan Bambang Toko), Dodo Hartoko dan juga Chabib Duto Hapsoro. Keempat adalah kemunculan Platform3 yang memasuki tahun pertamanya di tahun 2010 ini menjadi sebuah anomaly data dari survei kurator 2010 yang dilaksanakan oleh Visual Arts. Karena konsep kuratorial institusi ini yang lebih egaliter sehingga sulit untuk menunjuk orang per orangan yang bertanggungjawab pada satu proyek, Platform3 mengandalkan diskusi dari para pendiri (Agung Hujatnikajennong, Rifky Effendy, Aminuddin Th. Siregar, Wiyoga M., J. Araditya Pramuhendra dan Radi Arwinda) dan pengurus (Heru Hikayat serta Herra Pahlasari) sehingga proyek-proyek pameran di sini tidak dimasukkan dalam data survei kurator kami. Kelima adalah kecenderungan kebangkitan “kurator-kurator Bandung” yang telah terdeteksi di tahun kemarin dan berlangsung sampai tahun ini. Sehingga lumrah bila kita mendapatkan nama-nama kurator Bandung dalam berbagai program pameran senirupa tahun ini.

Berikut ini adalah hasil survei kurator 2010 versi Visual Arts berdasarkan alfabet.
AGUNG HUJATNIKAJENNONG. Basisnya memang sebagai kurator di Selasar Sunaryo Artspace, Bandung sehingga lumrahlah bila kegiatan kuratorialnya banyak dilaksanakan di ruang ini. Walaupun demikian, ia juga “menggawangi” pameran launching Jakarta Art District di awal tahun dan juga peringatan 10 Tahun Ruang Rupa di akhir tahun.

ALIA SWASTIKA. Kurator yang sempat hijrah ke Jakarta untuk menjalankan berbagai proyek di Ark Galerie ini kembali pulang kampung, Yogyakarta, di tahun 2010. Tapi hal ini tidak menghalanginya untuk menyelenggarakan berbagai proyek pameran di Jakarta. Sebutlah pameran tunggal bomber Darbotz di d Gallery, Ayu Arista Murti di JAD dan juga perupa video art, Tintin Wulia, di Ark.

AMINUDDIN TH SIREGAR. Kurator dan pengajar FSRD ITB ini memang berbasis di Bandung serta berafiliasi dengan Galeri Soemardja yang berada di bawah institusi akademis ITB. Selain kerja kuratorial yang ia laksanakan di galeri kampus ini seperti pameran sketsa S. Sudjojono, ia juga “menggawangi” pameran galeri komersial seperti pameran No Direction Home yang diselenggarakan oleh Edwin’s Gallery di Galeri Nasional Indonesia.

ARIEF BAGUS PRASETYO. Penulis-kurator yang berbasis di Denpasar, Bali. Untuk tahun 2010, Arief mengerjakan 14 proyek pameran yang di berbagai galeri di Bali diantaranya Hanna Artspace dan juga Maha Art.

ASMUDJO J. IRIANTO. Kurator sekaligus perupa ini cukup sibuk di tahun 2010 dengan paling tidak delapan pameran di Jakarta dan juga Bandung serta menulis sebuah pengantar pameran perupa-perupa Indonesia di New York. Kerja kuratorialnya di tahun ini banyak berafiliasi dengan Sigi Arts Jakarta dan juga Lawangwangi-Artsociates di Bandung.

ENIN SUPRIYANTO. Kurator ini banyak bekerjasama dengan Nadi Gallery untuk menyelenggarkan paling tidak lima pameran di tahun ini; dari pameran tunggal Laksmi Shitaresmi sampai pameran ulang tahun Nadi Gallery yang dilaksanakan di Galeri Nasional Indonesia.

HARDIMAN. Penulis yang juga berkerja sebagai dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Bali ini membantu 14 pameran di tahun 2010 ini yang tersebar di berbagai kota seperti Denpasar, Jakarta dan Yogyakarta. Ia pun banyak menangani pameran-pameran bekerjasama dengan Andi’s Gallery, MD Artspace dan juga Bentara Budaya

HENDRO WIYANTO. Kurator ini menuai banyak kontroversi setelah diskusi di Platform3 di pertengahan tahun karena pernyataan-pernyataan seputar hubungan kurator, galeri dan pasar. Di tahun ini, ia berkerjasama dengan Langgeng Gallery mengadakan pameran tunggal FX Harsono di Singapore Art Museum. Selain itu ia juga menampilkan pameran tunggal beberapa emerging artist --Andy Wahono dan Umbu L.P. Tangela-- di Langgeng Gallery dan Emmitan CA Gallery.

JIM SUPANGKAT. Kurator independen ini mengerjakan 12 pameran sepanjang tahun 2010 yang tersebar di Jakarta, Semarang, Bandung dan juga Shang Hai. Ia kerap kali mengerjakan pameran besar yang dilaksanakan di Galeri Nasional diantaranya IAA --yang ia kerjakan bersama-sama dengan Asmudjo J. Irianto, Rizki A. Zaelani, Suwarno Wisetrotomo dan Kuss Indarto-- dan juga pameran Ethinicity Now, pameran tunggal Entang Wiharso dan juga Mangu Putra yang masing-masing bekerjasama dengan Canna Gallery dan Vanessa Art Link

RIFKY EFFENDI. Kurator kelahiran 1968 ini adalah salah satu dari dua kurator tersibuk di tahun 2010. Paling tidak 14 pameran yang ia “gawangi” selama tahun 2010. Di antara semua pameran tersebut, pameran Keramik Kontemporer yang ia gagas bersama Asmudjo J. Irianto di North Art Space, Ancol dirasanya sebagai salah satu pameran yang paling menarik yang ia kerjakan. Ia banyak “menggawangi” pameran-pameran di Semarang Gallery dan juga Canna Gallery serta North Art Space.

RIZKI A. ZAELANI. Dari data-data yang dikumpulkan, paling tidak Kiki “menggawangi” delapan pameran yang sebagian besar pameran tersebut diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, tempat ia juga duduk sebagai Dewan Kurator. Selain pameran-pameran di Galeri Nasional, ia pun terlibat dengan berbagai program pameran galeri seperti Vanessa Art Link, Koong Gallery dan juga d Gallery.

Di antara sibuknya kerja para kurator di tahun 2010, ada beberapa kurator yang justru “menarik” diri dari hingar bingarnya program pameran tahun ini. SUWARNO WISETROTOTOMO adalah salah satu diantaranya. Ia menangani paling tidak dua pameran tahun ini, yaitu Artpreneurship di Ciputra Art World dan juga pameran tunggal Made Wiguna Valasara selain tentunya menjadi juri dan kurator bagi Indonesian Art Award. Alasan mengapa ia “membatasi” kerja kuratorial di tahun ini karena ia sedang menyelesaikan gelar doktoralnya di Yogyakarta. Nama lain yang juga terlihat menarik diri di tahun 2010 ini adalah KUSS INDARTO. “Saya ingin merefleksi aktivitas saya sendiri dan merefleksi hingar-bingar dunia senirupa yang tidak semua aktivitas mengayakan senirupa sendiri. Bahkan ada semacam pembusukan yang terus dipelihara”, dalihnya.

Terlepas dari pilihan-pilihan personal para kurator untuk pelaksanaan program atau pun juga menarik diri dari medan sosial senirupa Indonesia, tahun 2010 adalah tahun yang menarik di mana kita disuguhkan oleh berbagai pameran. Satu hal yang nyata juga dirasakan tahun ini adalah bagaimana sejarah mulai “diangkat” di berbagai pameran seperti Pameran Sketsa S. Sudjojono, No Direction Home, dan juga pameran tunggal Edhi Sunarso dan Emiria Soenassa. Semoga kedepannya kita dapat berkembang tanpa melupakan di mana kita berjejak dan sejarahnya. Salam [V] Vidhyasuri Utami
 
 
NIKMATILAH HARI INI PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 19 Oktober 2010 11:18

Yusuf Susilo Hartono

Di tengah kesibukan kerja,kerja, dan kerja, seseorang perlu bisa menikmati hari ini. Bagaimana para perupa membahasakan kenikmatan itu di  atas kanvas?

Philo Art Space tak jemu-jemunya mengaduk-aduk tema urban culture. Ahli filsafat Tommy F. Awuy dan pasangannya Amalia Ahmad mantan public relation ANTV yang sama-sama banting stir ke seni rupa kontemporer, menyulam dan menjaga benang merah tema itu dengan konsisten untuk pameran-pameran di ruang seninya. Sikap konsisten ini, dalam perjalanannya kemudian menjadi semacam ciri khas yang melekat pada eksistensi ruang seni di kawasan Kemang Timur itu.

Dalam program pameran terbarunya pada awal sampai pertengah Juli yang lalu, Tommy F.Awuy --yang beberapa waktu belakangan ini memantapkan diri sebagai kurator internal ruang seninya-- menyodorkan tema “Carpe Diem”, dari bahasa Yunani Kuno yang berarti “nikmatilah hari ini.” Frasa ini merupakan kalimat perintah, yang jawaban dan tindakannya sangat bergantung masing-masing individu, terkait dengan pengalaman, latar belakang pendidikan, budaya,  ruang dan waktu. Secara umum bekerja, bekerja, dan bekerja, adalah jawaban bagi mereka yang hidup di kota besar, dengan waktu yang berlari begitu cepat, sementara jalan raya kehidupan macet di sana-sini. Ini saja sudah menimbulkan pertanyaan dan tanggapan menarik: Lalu bagaimanakah menikmati hari ini (setelah seseorang memacu dirinya dengan kaki dijadikan kepala dan kepala dijadikan kaki)?  Fenomena yang menyolok mata dari kelas menengah kaum urban ialah, mereka menikmati hari ini dengan nongkrong di café, mall, resto, karaoke, salon, clubbing, hingga hal-hal yang nikmat tapi terlarang (tapi empuk untuk infotainment).

Dari para perupa yang terpilih mengikuti pameran dengan tajuk itu, penggambaran “nikmatilah hari ini” cukup bervariasi dalam pilihan bentuk, medium hingga ukuran. Bambang Sudarto menikmatinya dengan “satu orang dengan dua perempuan”,  Denny Susanto dengan “selancar”, Isa Perkasa dengan membebaskan diri dari tabung gas 3 kg yang akhir-akhir seperti teroris, meledakkan diri kapan dan dimana saja. Atau kita memilih seperti monyet dengan menenggak minuman beralkohol (?) dalam dalam karya paul Hendro. Atau malah lelah dan tak berdaya seperti lukisan Utin Rini Incognito Series yang belum selesai karena keburu sakit.

Dan yang menarik adalah tawaran Deddy PAW “menikmati hari ini” lewat lukisan apel bolong yang didalamnya ada patung Buddha. Kita menangkap pesan yang sangat jelas seorang pelukis Jawa, dengan filosofi warisan nenek moyang,”ngono yo ngono, ning ojo ngono”. Katakanlah, seseorang harus merayakan hari ini lewat tindakan konsumtif, materialistik, hedonis, tapi tetap ingatlah selalu pada yang lebih inti, yakni religiusitas. Pilihan ikon Buddhis, memang yang sering ia pakai secara aman, selain apel, untuk mengusung  ideom artistiknya.  Meskipun saya tahu dia bukan seorang penganut Buddha. Repotnya kalau ia hendak menghormati agamanya (Islam) lalu menggambar sosok Muhammad dalam apel, meski niatnya baik (da’wah) tapi apa kata dunia? Lagi pula tidak enak kan, kalau sampai meneggelamkan  popularitas “Ariel, Luna Maya dan Cut tari” yang telah memilih “merayakan hari ini” dengan cara menodai bangsa dan agamanya. Carpe Diem! [V]

Foto Phillo Art Space :

Deddy PAW, Your Path I Follow #1, 2010, cat minyak dia atas kanvas, 180 X 180 cm.

 
 
Dicari: Keedanan atau Kesintingan (Catatan Bambang Bujono, salah seorang juri Jakarta Art Award 2010) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 15 Oktober 2010 14:38

Dari pameran sekitar 80 lukisan hasil seleksi para juri Jakarta Art Award (JAA) ketiga pada Agustus di North Artspace Gallery, Ancol,  apa yang bisa kita peroleh?

 

Pameran ini menegaskan bahwa dari hanya satu peristiwa sulit, mendekati mustahil, mendapatkan panorama senilukis kita secara keseluruhan. Dulu, ketika Dewan Kesenian Jakarta mengawali pameran besar seni lukis, 1974, dengan tujuan memperoleh gambaran perkembangan seni lukis kita yang mutakhir, dalam perjalanannya pameran dua tahun ini akhirnya juga dibagi untuk sebisa mungkin memperoleh gambaran itu.

Yaitu dibagi dalam dua kategori: pameran pelukis muda dan pameran pelukis (yang tak muda lagi). Alasan DKJ, tidak pada tempatnya membandingkan pelukis yang sudah sekian tahun berkarya dengan pelukis yang mungkin baru empat atau lima tahun lulus dari perguruan tinggi seni rupa.

Pameran besar seni lukis DKJ adalah pameran tertutup, peserta diundang langsung, bukan mengusulkan diri. Masalah kemudian muncul dalam menyusun kriteria siapa diundang siapa tidak. Jadi, kalau mau terus terang, DKJ mengalami kesulitan merumuskan kriteria, ketika perkembangan seni lukis mulai meninggalkan “jiwa nampak”, dan ini terutama terjadi pada pelukis muda, katakanlah di bawah 35 tahun.

Pelukis Bonyong Munny Ardhie (lahir 1946) misalnya, pada tahun 1970-an tak lagi hanya melukis dengan cat atau acrylic pada bidang datar. Ia menjadikan misalnya kanvasnya mempunyai laci-laci, dan di laci itu ditaruh boneka. Lukisan cat pada kanvas kemudian tampak hanya sebagai latar belakang.

Dengan membagi pameran besar menjadi dua kategori, perdebatan mana lukisan mana bukan waktu itu terselesaikan. (Pameran seni lukis DKJ ini kini menjelma menjadi Jakarta Biennale, dan mulai JB 2008, mengundang pula senirupawan luar Indonesia).

Dengan perbandingan ini, tergambar sudah bahwa sebuah acara kompetisi seni lukis yang terbuka, siapa saja boleh mengusulkan diri, sulit dijadikan bahan untuk menggambarkan seni lukis kita hari ini. Ada paradoks di sini, keterbukaan itu justru menjadi keterbatasan. Mengapa? Biasanya para senirupawan yang sudah merasa “jadi”, karya-karyanya sudah menjadi simpanan kolektor serta menjadi buruan di balai lelang, enggan ikut serta. Memang, ada perkecualian, namun ini tak membuat sebuah kompetisi lalu diikuti semua senirupawan kita.

Lalu apa yang kita peroleh dari JAA ketiga ini? Setidaknya sebagian peserta berusia 30-an dan 40-an tahun (lebih dari 76%), usia produktif dan kreatif. Jadi dengan plus-minusnya, pameran hasil seleksi ini bisa dijadikan dasar meninjau seni lukis kita masa kini, dengan catatan bahwa senirupawan kita yang berusia 30-an dan 40-an tahun yang tak muncul di JAA juga banyak.

Yang Kasatmata

Dari sisi yang tampak pada bidang gambar, hal yang mulai terasa pada 1970-an tecermin dari sekitar 80 karya yang terseleksi ini. Pada umumnya masalah menggambar sepersis karya fotografi bukan lagi masalah bagi para senirupawan kita. Realisme Fotografis, begitu lazim disebut.

Dan bukan hanya itu. Kepiawaian memindahkan bentuk, warna, dan sebagainya pada kanvas dari dunia nyata sepersis karya foto, pada beberapa senirupawan “hanya” alat untuk sesuatu yang lain. Misalnya karya Desrat Fianda (lahir 1983), Di Balik Tembok Tetangga. Desart tak hanya melukiskan tembok batu bata merah sepersis mungkin, melainkan tembok sebagai ide. Di atas tembok adalah langit dan sepotong bukit.

Untuk lebih meyakinkan bahwa ini bukan sekadar lukisan realistis sebuah tembok, bidang kanvas Desrat tidak persegi seperti lazimnya, melainkan sebuah trapesium.

Barangkali karena lebih menekankan pada ide, pelukis ini tak merasa perlu membuat perspektif tembok. Bidang sisi tembok tinggi itu dari bawah sampai atas terkesan sama panjang dan lebarnya. Ini, pada rasa saya, menjadi “gangguan”, dan justru karena itu lukisan ini mengajak kita merenungkan soal “tembok” yang kita hadapi sehari-hari: tembok dalam komunikasi antarpribadi, tembok sosial, dan tembok-tembok yang lain.

Contoh yang lain adalah Dimensi Perburuan karya Imam Abdillah (lahir 1976).  Tak sulit melihat bahwa Imam “menggubah” (bukan hanya mengubah) adegan dalam beberapa lukisan terkenal. Antara lain lukisan Raden Saleh Enam Orang Berburu Kijang. Dengan cermat Imam menyusun kembali adegan-adegan itu hingga membentuk satu suasana kekacauan di sebuah jalan besar di sebuah kota yang tampaknya mewah. Bila ada sedikit kejanggalan anatomi, mungkin karya ini dikerjakan agak tergesa.

Yang jelas, kepintaran  Imam menggambarkan apa saja –dari kuda sampai gedung, dari langit sampai balon, dari wajah sampai papan reklame --dan mengomposisikannya sehingga membentuk sebuah “teater” kekacauan adalah satu kredit buatnya.

Lalu begitu telaten dan cermatnya Putu Wirantawan menggunakan pensil dan bolpoin pada kanvas 1,2X2,0 meter. Dengan media tersebut ia menciptakan sebuah dunia yang lain, tanpa sosok makhluk tampak nyata. Imajinasi kita menggambarkan, makhluk-makhluk dunia lain itu mungkin ada dalam semacam pipa-pipa atau kendaraan terbang.

Di samping itu, karya-karya lain yang merupakan gambaran tentang sebuah kota besar dengan lalu-lintas mobil mewah dan gedung-gedung pencakar langit serta jalan bersusun tak meragukan bahwa senimannya memang menguasai keterampilan pada tingkat yang tidak setengah-setengah.

Tapi semua itu, sambil mengingat karya-karya para seniman yang tak serta, masih dalam lingkup yang tak sulit ditemukan di pameran-pameran di galeri-galeri. Penggarapan media oleh tangan-tangan terampil itu kurang membuat kita tercengang. Tak ada misalnya yang menggarap habis gagasan bahwa “medium is the message” – ungkapan terkenal dari ahli komunikasi bernama Marshall McLuhan, sekian puluh tahun yang lalu. Tiada dari sekitar 80 karya ini yang mediumnya (dari cat minyak sampai pensil, dari resin sampai cat air) digarap dan digunakan sedemikian rupa hingga antara medium dan gagasan tak terpisahkan. Medium itu sendiri masuk dalam gagasan, dan gagasan itu tak mungkin dihadirkan tanpa medium pilihan tersebut.

Jadi? Para peserta JAA bekerja sangat tekun dan cermat, namun as usual. Kreativitas, demikian disebarkan ke segala penjuru, memerlukan sejenis keedanan. Keedanan, mungkin kesintingan, itu tak saya temukan dalam JAA 2010 ini.

Memang, kompetisi lazimnya memasang rambu. Salah satu rambu di JAA, ukuran karya antara 60x60 cm dan 200x200 cm. Tapi bukankah seniman justru tertantang oleh rambu-rambu?

Dari sisi kasatmata ini Aditya Novali paling menyatukan antara medium dan gagasan. Lukisannya diwujudkan dalam “jendela” yang “daun” jendelanya berupa susunan balok yang tiap sisi membentuk gambar berbeda. Keterangan ini mungkin kurang jelas. Mudahnya, susunan kanvas Aditya seperti iklan yang berubah-ubah di pertandingan bola zaman sekarang. Rotatable bars atau batang balok yang bisa diputar, begitulah.

Kalau harus ada kritik, lukisan-lukisan itu menarik kita karena ditempatkan pada medium berbeda dari lazimnya, namun kesatuan antara lukisan dan mediumnya kurang digarap habis-habisan.

Aspek-aspek Urban

Inilah tema yang ditentukan panitia. Dari satu kalimat tiga kata ini, sesungguhnya diniatkan memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada peserta untuk masing-masing menafsirkan sendiri.

Apa mau dikata, pengalaman mengatakan (dari berbagai pameran tematik yang penah diselenggarakan beberapa galeri di Jakarta, dari tema Frida Kahlo sampai Chairil Anwar, dari sebuah cerita pendek sampai beberapa cerita pendek –lihat “Ketika Karya Seni Rupa Berkisah”, VisualArts, Juli 2010), tampaknya para senirupawan kita perlu dipancing agar kinerja gagasannya optimal. Terkesan dari beberapa pameran tematik, bahwa “riset” dan “referensi” tampaknya kurang diakrabi senirupawan kita.

Ini sebabnya sebagian karya-karya JAA 2010 menampilkan kota lebih dari sisi fisik, dan ini pun stereotip alias mengunyah-kunyah yang sudah lazim. Tentang kemacetan lalu lintas, mobil mewah dan anak jalanan, pemandangan jalan bertingkat. Atau, stereotip yang lain: bahwa kota identik dengan kekerasan maka sang Donald Bebek pun main tembak, dan lukisan Ini Jakarta (Kita) Bung menggambarkan warga kota saling berantem.

Batangkali sebuah pengantar pendek apa yang dimaksudkan dengan “Aspek-aspek Urban” bisa membantu. Memang, di sini pun terkandung bahaya, bila wacana dalam esai ini membuat peserta terkungkung pada gagasan di dalamnya. Alhasil, adalah jalan tengah: sebuah esai sedemikian rupa sehingga kekuatan mengungkungnya kecil. Yang lebih dikemukakan adalah rangsangan untuk berpikir dan mencari ide-ide, agar kota tak seperti itu-itu juga.

Jadi, dari sisi ini, “kelemahan” tak sepenuhnya ada pada peserta. Sebuah esai yang memikat, yang menjelaskan tema yang diminta, yang memancing pemikiran baru, membuat berani seniman yang malu-malu adalah sebuah tawaran kreativitas. Dan dari sisi lain, esai seperti itu bisa menjadi magnet JAA: menarik lebih banyak peserta.

Memang, ada yang menyangsikan bahwa senirupawan kita gemar membaca. Memang, ada kesan bahwa beberapa ilustrasi cerita pendek di Kompas edisi minggu dibuat tanpa senirupawannya membaca cerita pendeknya. Tapi ini bukan alasan untuk tak membuat sebuah esai yang memikat. Ini bukan hanya perlu dicoba, tapi untuk meyakinkan peserta dan siapa saja bahwa panitia paham yang dimauinya.

Jakarta, menjelang peringatan Hari Proklamasi 2010

 
 
Sedikit Catatan Sekitar Seni Patung PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 06 Agustus 2009 01:24

Geliat seni patung di Indonesia menampakkan titik terang pada awal penghujung tahun 2009 ini. Maraknya pameran dan apresiasi publik terhadap karya-karya tiga dimensi ini memberikan angin segar di tengah muramnya peta perekonomian dunia. Asikin Hasan mengulas perkembangan terakhir seni patung di Indonesia.

 

 
 
OK, Mari Bicara Video! PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 06 Agustus 2009 01:18
Tahun 1981, Asrul Sani pernah menandaskan sebuah fenomena yang pada saat itu baru, yakni video. Ia mengatakan, “Sekarang ini kita berhadapan dengan suatu fenomena yang sumber dan pintu masuknya tidak lagi ketahuan, tetapi langsung masuk ke tengah-tengah keluarga dan rumah tangga.” Hafiz mengulas perkembangan fenomena ini dalam ranah sosial seni rupa kontemporer Indonesia.

 

 
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 3

images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Kamis, 10 Mei 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Kamis, 10 Mei 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Kamis, 10 Mei 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Kamis, 10 Mei 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Kamis, 10 Mei 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7547)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6832)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6669)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Sedikit Catatan Sekitar Seni Patung
(hits: 4152)


Baner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa