RASA KAGUM DAN HORMAT MENGALIR DARI DALAM DAN LUAR NEGERI UNTUK DR.OEI HONG DJIEN. NAMUN DIBALIK ITU SEKELOMPOK ORANG KINI SEDANG MENCURIGAI KOLEKSINYA.
agelang, Jawa Tengah, awal April lalu mendadak jadi pusat perhatian dunia senirupa Indonesia dan luar negeri. Lantaran salah satu warganya yang dikenal luas sebagai salah satu tokoh senirupa Indonesia, dokter Oei Hong Djien (OHD) merayakan ulang tahunnya 5 April 2012 yang ke-73 dengan banyak acara. Mulai dari peresmian museum, pameran Lima Maestro, peluncuran uku (Lima Maestro Senirupa Modern Indonesia, dan kumpulan tulisan “Seni dan Mengoleksi Seni”, serta pesta-dansa. Selain itu ratusan teman-temannya ikut merayakan dengan menggelar diskusi, dan belasan pameran serempak di sejumlah galeri lokal yang diikat dengan tajuk Magelang Art Event (MAE).
Tamunya tumplek blek, datang dari kalangan, kolektor, galeri, seniman, art dealer, pengamat, hingga media massa lokal, nasional, hingga luar negeri yang dikerahkan Djarum Apresiasi Budaya . Antara lain Kwik Kian Gie (mantan Menko Perekonomian, Kwok Kian Chow (Penasihat Senior Galeri Nasional Singapura), Lorenzo Rudolf (pendiri dan direktur Art Stage Singapura), Magnus Renfrew (direktur art Hongkong).
Gedung Museum OHD yang baru di Jl. Jenggolo 14 itu, yang diresmikan oleh Walikota Magelang Ir.Sigit Widyonindito dulunya adalah bekas bangunan gudang tembakau. Maklum keluarga besar dr.Oei, menekuni bisnis tembakau dari dulu sampai sekarang, hingga mencapai keberhasilan. Dari uang tembakaulah, dr.Oei bisa mengoleksi 2000-an karya seni rupa modern dan kontemporer. Dari karya Raden Saleh, Abdullah Suryosubroto, Basuki Abdullah, Mas Pirngadie, Kartono Yudhokusumo, Soedibio, Affandi, S. Sudjojono, Hendra Gunawan, H.Widayat, hingga Srihadi Sudarsono, untuk perupa modern. Dan yang kontemporer antara lain karya Entang Wiharso, Nasirun, Heri Dono, Eko Nugroho, S. Teddy D, Ay Tjoe Christien, Tisna Sanjaya, Ivan Sagito, hingga Yuswantoro Adi.
Kehadiran Museum ke-3 itu melengkapi dua bangunan museum sebelumnya, yang berdiri di dekat rumahnya di Jl. Diponegoro 17. Gedung museum ke-1 dibangun 1997, untuk memajang karya modern. Disusul gedung museum ke-2 dibangun 2006, untuk memajang karya kontemporer. Karya-karya yang dipamerkan dirotasi secara teratur.
Menurut Letty Soerjo, menantu OHD yang dipercaya sebagai Direktur Museum OHD, ketiga museum tersebut, kini terbuka untuk umum, sejak hari Rabu hingga Senin, mulai pukul 10.00-18.00 setiap harinya, hanya Selasa yang tutup. Sebelumnya, Museum OHD 1 dan 2 hanya bisa dikunjungi berdasarkan janji dan gratis. Tapi sekarang setiap pengunjung dikenakan tiket masuk seharga Rp.100.000/orang bagi WNI, Rp.150.000/orang bagi orang asing, dan harga khusus bagi rombongan/pelajar. Dengan harga tiket sebesar itupun – 8-10 kali harga tiket masuk Museum Nasional Rp.1500/orang -- menurut hitungan di atas kertas Museum OHD tetap merugi. Sebab, menurut lulusan ilmu bisnis University of Michigan, Amerika Serikat, pemeliharaan lukisan membutuhkan biaya besar. Apalagi koleksi museum itu dirawat rutin oleh dua restorator Singapura dengan tarif paling murah Rp.1 juta / jam.
Back to Basic : Lima Maestro
Pameran bertajuk Back to Basic yang menampilkan Lima Maestro Senirupa Indonesia “versi” dr.Oei, yaitu Affandi (1907-1990), S.Soedjojono (1913-1986), Hendra Goenawan (1916-1983), H.Widayat (1919-2002), dan Soedibio (1912-1981) mengguncang publik senirupa Indonesia maupun mancanegara. Pakar sejarah senirupa Indonesia dari Belanda Dr. Helena Spanjaard, di depan rombongan para wartawan ibukota, memuji koleksi-koleksi Museum OHD, dan mengagumi karya-karya lima maestro seni lukis Indonesia, yang sebagian besar baru pertama kali dikeluarkan dari “pingitannya” untuk tontonan publik dalam dan luar negeri.
Lebih lanjut baca Majalah Visual Arts edisi Mei-Juni 2012
| |