BERANDATENTANG KAMIMENDAFTARGERAIADVERTISEREKANAN
Indonesian (Indonesia)English (United Kingdom)

BERANDA
GERAI
NASIONAL
INTERNASIONAL
FOKUS
TEKSTUR
SANTIK
WAWANCARA
PROFIL
KRITIK
VIDEO & ART
WARTA KAMPUS
MOZAIK
PHOTOGRAPHY
TILIK
WARTA PASAR
REFLEKSI
JADWAL KEGIATAN
FORUM








Baner
TILIK
MELIHAT KEMBALI “ MANIFESTO” PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 19 Oktober 2010 15:26

Vidhyasuri Utami dan Yusuf Susilo Hartono

PAMERAN BESAR MANIFESTO II MENYUGUHKAN SEBUAH PERCAKAPAN YANG TAK TERFOKUS. MENGAPA?

Dalam benak kita, terminologi “manifesto” adalah sebuah term yang “galak”, revolusioner dan “besar” karena memberikan sebuah platform untuk kerja-kerja perbaikan yang diperlukan di depannya. Dalam sejarah senirupa Indonesia sendiri, kita pun pernah mengenal Manifesto Kebudayaan yang muncul di tahun 1963 sebagai salah satu upaya untuk memberikan jejakan bagi perkembangan senirupa Indonesia dengan membebaskan seni dari dominasi ideologi kiri yang saat itu mendominasi dunia seni.

Di tahun 2008, berkenaan dengan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, sebuah pameran besar pun digelar. Tak ayal, pameran besar ini berusaha menampilkan acuan atau pun jejakan perkembangan senirupa Indonesia dan tajuk pameran tersebut pun dinamakan “Manifesto”. Bila dulu Manifesto Kebudayaan dimulai dengan Surat Kepercayaan Gelanggang, Manifesto 2008 dimulai dengan surat pengantar kuratorial yang berusaha untuk mengumpulkan seniman-seniman Indonesia dalam sebuah perhelatan besar dan “membaca” trend perkembangan senirupa Indonesia. Pameram besar itu pun berlangsung dua tahun yang lalu dan memamerkan ratusan karya seni rupa  dan mengelompokkannya menjadi empat ranah tema: seni sebagai narasi baik sosial maupun personal, seni sebagai eksplorasi estetis, seni sebagai identitas, dan seni... Di tengah perdebatan penyelenggarannya, pameran besar ini adalah salah satu pameran terpenting tahun itu dan mampu menampilkan semangat kebersamaan yang sangat tinggi di dunia senirupa Indonesia.

Kini dua tahun setelah penyelenggaraan Pameran Besar Manifesto, pameran besar serupa kembali dilangsungkan di Galeri Nasional Indonesia dengan tajuk “Manifesto 2: Percakapan Masa.”  Walaupun sedikit terusik dengan penerjemahan bebas judul ke bahasa Inggris menjadi Common Conversation yang sepertinya alpa untuk mengikutsertakan konteks waktu dalam penerjemahan (apakah mungkin terlupa membedakan antara masa dan massa?), kami pun memasuki ruang pamer Galeri Nasional Indonesia. Hingar bingar senirupa kontemporer Indonesia pun seakan-akan menyambut kami di berbagai sudut ruang pamer. Kami disuguhi oleh berbagai karya berukuran besar dan instalasi bermacam rupa. Semuanya berusaha menyikapi satu hal, yaitu: usaha bercakap-cakap dengan karya-karya maestro milik Galeri Nasional Indonesia.  Pertanyaan yang muncul kemudian adalah berhasilkah?

Bila kita berharap menemui sebuah komunikasi tanpa penguasaan, mungkin ini bukan pameran yang tepat. Mungkin karena memang kerangka kuratorial pameran ini yang menempatkan para perupa masa kini menjadi subyek penyikap karya-karya pendahulu merekalah yang menyebabkannya sehingga komunikasi yang cenderung satu arah mendominasi pameran ini. Walaupun demikian, bukan berarti tidak ada percakapan personal yang menarik. Tengoklah karya Heri Dono yang bertajukkan Salehsaurus, Guntur Triadi yang bercakap-cakap dengan karya Ibu Menjahit milik S. Sudjojono dan karya Nasirun yang “serupa tapi tidak sama” dengan karya milik pelukis dekorativisme legendaris Kartono Yudhokusumo.

Percakapan yang muncul juga terlihat tak fokus karena kedua kurator pameran (Rizki A. Zaelani dan A. Rikrik Kusmara) ternyata tidak mengelompokkan karya-karya partisipan menjadi empat kelompok besar pembagian karya maestro (tentang peristiwa, tentang situasi dan potret) seperti yang tercantum pada undangan partisipasi pameran. Hal ini dibenarkan oleh Rikrik Kusmara yang bertujuan untuk memberikan fleksibilitas tampilan pameran selain memang banyak perupa yang tidak bercakap-cakap dengan karya-karya maestro secara spesifik. Kita bisa membandingkan mekanisme kuratorial kali ini dengan pameran sebelumnya. Bila manifesto sebelumnya berusaha untuk “patuh” dengan nuansa  galak terminologi tersebut dengan menampilkan  “genre” besar sebagai acuan dunia senirupa kontemporer Indonesia, pameran kali ini justru seakan-akan menghilangkan pembagian “genre” yang pernah berusaha dilakukan sebelumnya dan sekaligus menampilkan kondisi senirupa Indonesia masa kini yang sarat dengan carut marut. Sebuah interpretasi akan situasi terkini yang mungkin saja tujuan besar dari pameran ini.

Satu hal yang paling menarik dari perhelatan kali ini bukan datang dari hingar bingarnya karya senirupa kontemporer Indonesia yang banyak muncul dalam format besar; melainkan muncul dari sudut ruang pamer yang menampilkan karya-karya maestro. Sudut-sudut yang terasa lebih hening dari sudut yang lain ini menyimpan kedamaian sekaligus kekuatan yang besar. Sebuah kesempatan yang memang ditunggu oleh publik untuk dapat berhadapan langsung dengan berbagai karya legendari senirupa Indonesia yang mungkin sebelumnya hanya dikenal melalui literatur-literatur saja.

Sang sudut hening ini pun seakan-akan bertanya-tanya kepada hingar-bingar senirupa di luarnya, mau dibawa kemanakah arah senirupa kontemporer Indonesia? [V]

 
 
PASTEL SUNYI SOENARTO PR PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 15 Oktober 2010 14:58

Satmoko Budi Santoso

 

DALAM USIA SENJA, PENDIRI SANGGAR BAMBU INI TETAP BERKARYA BERBASIS PASTEL. SAYANG BELUM ADA KOLEKTOR YANG MELIRIK KESETIAANNYA.

 

 

Bentara Budaya Yogyakarta, awal Agustus lalu, tak seperti biasanya. Pada dinding galerinya, terpampang begitu banyak potret tokoh, mulai dari potret diri Proklamator dan Presiden pertama RI Bung Karno dan Bu Fatmawati (yang menjahit bendera sang saka merah putih pertama), Jendral Sudirman, ”emaknya seniman” dr. Melani W.Setiawan, politisi muda Rieke Dyah Pitaloka, hingga budayawan Emha Ainun Nadjib. Ada pula lukisan pemandangan dan lukisan hewan.

 

Pameran tunggal Soenarto PR ini terasa istimewa, karena di tengah gemuruh pameran lukisan dengan berbasis cat minya dan akrilik, ia tampil dengan medium pastel. Dan itu ternyata bukan hanya setahun dua tahun menekuni, tapi sudah dalam rentang waktu puluhan tahun. Bahkan ia bertekat akan melanjutkan sampai kapanpun. Lantaran pastel, disamping ”praktis”, ia bisa digunakan melukis sekali jadi. Tidak seperti medium cat minyak yang prosesnya cukup rumit dan harus menunggu lama (baru kering). Dari sini kita sudah mendapat gambaran bagaimana sikap keseni(m)annya, yang lebih berpihak kepada suara hatinya, meski harus menanggung hidup ”di jalan sunyi”, ketimbang harus ikut tren.

 

Karya-karya Soenarto dengan medium pastel dalam pameran tersebut, pada umumnya menunjukkan kehalusan, yang boleh jadi hal ini pantulan ekspresi dunia batinnya. Dengan pendekatan realistik-naturalistik yang begitu menantang, setiap kali menggarap potret diri, Soenarto harus berjuang bagaimana sifat kehalusan pastel itu bisa digunakan menangkap dan menggambarkan berbagai karakter tokohnya secara subtil. Apalagi karakter tokoh-tokoh yang digambarnya, sudah menjadi rahasia publik.

 

Jejak-jejak detil goresan pastelnya, menggambarkan gairah. Bahkan kegairahan itu begitu terasa ketika ia harus menggarap medan cahaya dan bayangan. Di bagian ini, ia merasa punya peluang membarui capian artistiknya secara terus-menerus, hingga merasa lebih baik.

 

I Gede Arya Sucitra, perupa dan dosen seni lukis Institut Seni Indonesia Yogyakarta, disela pameran itu memberikan komentar bahwa media pastel sebenarnya memang bernilai sangat spesifik. Jelas, kelebihannya adalah pada aspek bahwa semenjak dari awal menggambar sampai akhir, relatif tak ada perubahan warna. Juga lebih membuat karakter yang tegas pada setiap obyek dan cukup bagus untuk meraih efek kontras.

 

Memang tidak mudah menjadi seniman di Indonesia pada saat ini, yang sudah terlanjur kokoh pada keyakinannya, sementara tren berkata lain, cenderung kontemporer dan berorientasi pasar. Dan Soenarto lewat pamerannya ini adalah salah satu contoh, yang dapat dijadikan pelajaran sekaligus kaca brenggala, ketegaran dalam kesunyian.[V]

 
 
CEET Dari Paris ke Jakarta PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 14 Oktober 2010 17:56

Alia Swastika

 

Seorang lelaki botak berperawakan tinggi besar dengan wajah yang sedikit angkuh itu bernama Ceet (dibaca ci-ty), seniman asal Toulouse, Perancis Selatan yang juga memiliki darah Afrika.

Sejak kunjungan singkatnya di Jakarta selama sekitar satu bulan, sudah ada setidaknya tiga tembok besar di Jakarta yang menjadi “korban” coretan cat semprot dari tangannya. Salah satunya adalah tembok besar panjang di depan Cilandak Town Square. Jika anda teliti, di antara sekian banyak grafiti di tembok itu, anda dapat melihat torehan nama “CEET” yang berbentuk seperti gelembung-gelembung berwarna putih dalam ukuran yang besar. Ceet dan lima seniman lain dari Perancis dan Amerika memang datang ke Jakarta untuk berpameran dan berkolaborasi dengan tujuh seniman grafiti dari Jakarta. Tembok di Citos ini menjadi salah satu saksi kolaborasi besar mereka.

Tanpa bermaksud meniadakan seniman lain yang turut mengikuti pameran Wall Street Arts di Galeri Salihara yang telah berlangsung sejak 10 Juli sampai 8 Agustus 2010, Ceet memang seorang seniman yang cukup menonjol.

Ia memulai aktivitasnya di jalanan ketika ia tinggal di sebuah kota kecil di selatan Perancis. Menurutnya, pada saat itu, anak-anak muda Perancis sudah diperkenalkan dengan budaya baru yang disebut sebagai street arts, sesuatu yang dengan cepat membesar di seluruh tempat di Eropa. Ceet kecil, nama aslinya Fuad Ben Allal, masih remaja belia pada saat itu. Di umurnya yang baru 13 tahun, ia melihat bagaimana budaya baru ini memberi pengaruh pada seluruh semangat pemberontakan. Ia kemudian mencoba pula menuliskan namanya di jalan-jalan, awalnya dengan bentuk yang sangat sederhananya.

“Tetapi pada saat itu, saya merasa puas dan saya seperti diselamatkan dari ketersesatan menghadapi dunia. Hal-hal berlangsung cepat dan simultan, sementara saya tak tahu harus melakukan apa sebagai anak muda. Pada saat itu, grafiti telah memberi jalan pada saya untuk menunjukkan pada dunia bahwa saya ada. Rasanya tak terbayang bahwa orang-orang melihat pada tag mu di jalanan,” kisahnya.

Ketika berusia 20-an, Ceet pindah ke Paris. Di sini, ia semakin menjadi-jadi memasuki dunia grafiti. Ia bertemu dengan para pelaku grafiti dengan latar belakang yang berbeda-beda. Di Paris, grafiti memang menjadi ruang bertemu bagi kelompok-kelompok anak muda terutama dari kelompok yang marjinal, sehingga tak pelak, pelaku grafiti selalu punya isu-isu politis yang berkaitan dengan identitas, peminggiran, dan sebagainya. Hal ini yang kemudian mendasari Ceet untuk melihat grafiti sebagai sebuah cara untuk menyampaikan sesuatu, terutama melepaskan pandangan yang diredam atau ungkapan kemarahan karena soal-soal ketidakadilan. “Dengan cara macam itulah, grafiti dapat memberikan kontribusi untuk dunia yang lebih baik,” katanya.

Sejak tahun 1990 ia telah malang melintang di dunia grafiti, berpameran di penjuru dunia, sampai pada tahun 2002 ia memutuskan untuk pindah dari Paris ke Hongkong. Kepindahannya ini ternyata menjadi suatu fase penting bagi pergerakan seni jalanan di Hongkong, sebab sebagaimana dalam film dokumenter “Grafiti in Asia” karya Ryo Sanada dan Suridh Hassan, disebutkan bahwa Ceet adalah salah satu orang yang pertama kali mulai menggambar di reruntuhan tembok dan dinding jalanan di Hongkong. Sejak saat itu, semakin banyak anak muda yang mengikuti kebiasaan Ceet menggambar dengan cat semprot, sehingga seni jalanan, khususnya grafiti di Hongkong semakin berkembang pesat. Ceet juga adalah orang yang sering memberi masukan pada seniman grafiti di China untuk mulai membuat grafiti tidak dengan gaya Barat saja, melainkan juga membuat grafiti dengan bentuk aksara Cina.

Dalam pengalaman saya bekerja sama dengan Ceet selama di Jakarta, saya menyadari betapa nalurinya sebagai seorang seniman jalanan sangatlah kuat. Seolah ia tidak bisa melihat dinding yang polos, ia akan menempel stiker atau mencoret dengan spidol dan cat semprot nama “Ceet”, kemanapun ia pergi. Walhasil, mulai dari galeri Salihara, dinding-dinding Jakarta sampai taksi yang kami tumpangi dari Kemang, semuanya kena ulah “iseng” tangan Ceet. Kami agak terperangah dengan kecepatan tangannya itu. Kadang-kadang, ketika semua seniman berkumpul bersama, tiba-tiba Ceet menghilang sendirian, dan kami menemukannya sudah hampir selesai membuat tagging di jalanan yang ramai.

Namun tindakan ini sebetulnya bukan iseng semata. Ceet sadar betul bahwa pola komunikasi dalam grafiti serupa dengan iklan yang kita lihat di jalanan. Semakin sering kita melihatnya, akan semakin mudah kita mengingatnya. Demikian pula baginya, bahwa grafiti adalah sebuah representasi keegoisan seorang artis, artinya bahwa seorang seniman grafiti bebas memilih tembok dan tempat manapun yang ia sukai dan menggambarnya sesuka hati. Keegoisan ini dibarengi kesadaran Ceet bahwa seseorang memang tidak dapat membuat semua orang senang, maka jika grafitinya ditumpuk atau dihapus, seorang seniman grafiti harus bisa menerimanya dengan lapang.

 

Dari Dinding Jalanan ke Ruang Galeri

Pada awal karirnya sebagai seniman grafiti, Ceet tidak melihat grafiti sebagai sebuah media komunikasi, melainkan sekedar sebagai sebuah pengalaman yang menegangkan dan memicu adrenalin saat menggambar di tembok jalanan, di depan pintu toko atau di kereta subway. Hal ini serupa dengan kebanyakan seniman grafiti yang menggambar di jalan pada tahun 70-80an, di mana grafiti kala itu dianggap sebagai subkultur dan lambang pemberontakan remaja. Menurut cerita para dedengkot grafiti yang turut berpartisipasi dalam pameran Wall Street Arts, dunia seni jalanan pada era itu memang sangat gelap dan penuh kekerasan. Para seniman grafiti kala itu merupakan target operasi yang paling dicari-cari oleh polisi. Bukan hanya polisi, perang antar geng juga kerap menjadi dinamika tersendiri dalam dunia grafiti kala itu.

Pada perkembangan selanjutnya, kecenderungan artistik grafiti mulai dapat diterima sebagai kontribusi penting dalam seni rupa kontemporer dengan visi estetik yang jelas. Dengan demikian semakin banyak pula ditemui seniman grafiti yang bekerja dengan media-media yang telah mapan dalam seni rupa kontemporer.

Masuk ke dalam ruang galeri yang tampak steril, bukan berarti suatu bentuk komersialisasi, sesuatu yang kerap menjadi dilema dalam perkembangan seni jalanan-- sebab dituding telah mereduksi semangat perlawanan budaya grafiti. Bagi Ceet, kanvas justru merupakan media yang sangat ideal dalam menyampaikan pesan. Ia tidak bisa dihapus (sebagaimana dinding jalanan berubah dengan sangat cepat) dan pesannya bisa tersebar ke penjuru dunia tempat kemanapun ia dibawa berpameran. Dalam beberapa karyanya, Ceet tidak hanya menunjukan eksplorasi artistik, namun juga menunjukan ketersiratan visi politis. Berbeda dengan tembok, bagi Ceet berkarya di atas kanvas memerlukan keahlian yang lebih tinggi, demikian pula dengan aspek emosional dan mental seorang artis. Baginya, menggambar di dinding merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan bersama-sama, baik dalam mencampur warna, berbagi pengetahuan, konsep dan berproses bersama. Namun dalam kanvas, seorang artis menjadi seorang individu yang memiliki otoritas, sehingga ia harus lebih fokus karena setiap millimeter dari sebuah kanvas adalah miliknya, dan merupakan representasi dari dirinya.

 

Konsep Artistik Ceet

Makin serius masuk dalam seni rupa kontemporer, Ceet mengeksplorasi pula kemungkinan-kemungkinan bentuk yang lain dari grafiti. Selain membuat karya kanvas, Ceet juga sekarang mulai berkarya dalam medium tiga dimensi, baik dari resin maupun logam.

Yang menarik adalah bagaimana transformasi dari tagging Ceet yang cenderung ceria dan punya kecenderungan naïf, menjadi satu bentuk karya lukis yang lebih rumit dan punya karakter. Memang, pada karya-karya lukis Ceet, kita hampir sulit mengenali tagging jalanannya, terutama jika kita bandingkan dengan seniman lain seperti Sonic yang memang mengusung tagnya ke kanvas, ataupun kongo yang mentransformasi tagnya sedemikian rupa menjadi sebentuk imaji visual yang baru.

Tak jauh dari grafiti, Ceet mencoba untuk menjelajahi kemungkinan artistic yang lain dari bentuk-bentuk huruf. Sepintas, karya-karya Ceet memang menunjukkan kesan imaji yang geometris, yang terutama dibentuk oleh penggunaan garis pinggir (outline) yang kuat dan tegas. Kanvas Ceet seperti menghadirkan ruang tiga dimensional, dimana huruf-huruf tampak berputar dalam labirin, saling bertumpukan, seolah chaos. Sebagian kanvas ceet tidak menunjukkan warna-warna yang penuh. Di atas kanvas, Ceet tampak pelit menorehkan warna.

Patung dan objek dimensinya dibuat dengan  yang sama dengan karya lukis kanvasnya. Ia membuat patung berukuran cukup besar dengan imaji huruf-huruf bertumpukan di halaman depan sebuah galeri seni kontemporer di Hong Kong. Ia banyak bereksplorasi dengan resin, perunggu dan alumunium.

Memasuki dunia seni rupa kontemporer kemudian menantang Ceet untuk mengembangkan gagasan artistiknya jauh dari ‘kerangka’ grafiti. Ia tergerak untuk menciptakan bentuk-bentuk dan kemungkinan baru dari pengalaman dan amatannya terhadap kehidupan jalanan, sesuatu yang telah lama menjadi bagian dari kesehariannya. Karya kanvasnya juga banyak diilhami oleh pengalaman hidupnya sendiri, dari refleksi terhadap relasi personal dan keintiman, rasa  sakit, maupun ide-ide lain yang tak melulu soal pemberontakan, sebagaimana yang acap dipikirkan kebanyakan orang tentang grafiti.

Karya-karya Ceet juga telah diapresiasi banyak merek besar dunia yang menjadikannya sebagai kolaborator dalam produk-produk mereka, seperti Prada, Adidas dan Quicksilver.

Ceet, Jakarta, dan Indonesia

Pengalaman berada di Jakarta hampir selama rupanya memberikan referensi baru yang cukup menarik kepada Ceet. Tak hanya berinteraksi dengan seniman-seniman grafiti Jakarta ketika mereka berpameran di Galeri Salihara, ia juga secara intensif membangun diskusi dengan seniman yang secara usia jauh lebih muda ini untuk melukis di jalanan.

Bagi Ceet, karena grafiti sendiri merupakan satu bentuk budaya urban yang usianya masih relatif muda di Indonesia, memang banyak keterbatasan teknis yang dihadapi oleh seniman-seniman Jakarta. Soal bahan baku, misalnya, memang tidak mudah mendapatkan cat yang kualitasnya seperti cat-cat yang ditemukan di Eropa ataupun Amerika. Tetapi, justru, seperti cerita-cerita klasik, keterbatasan-keterbatasan itu melahirkan satu bentuk kreativitas baru, terutama berkaitan dengan teknik dan pendekatan.

Dalam amatan Ceet, imaji-imaji grafiti di Jakarta memang tampak lebih dipengaruhi oleh seniman-seniman grafiti dari kota-kota di Asia, terutama karena berkembangnya bentuk karakter yang terasa lebih dominan ketimbang pemindahan tag atau huruf. Ada juga beberapa seniman yang lebih ngotot mempertahankan semangat grafiti old-school, yang memberi warna lain untuk grafiti yang cenderung seragam. Ia juga memuji Darbotz yang tampak punya gayanya sendiri, sehingga menciptakan kesan yang unik dan eksententrik, tetapi juga komunikatif.

Di masa depan, Ceet melihat, sebagaimana sempat disinggung di awal, grafiti menunjukkan potensi cukup besar untuk diterima sebagai genre yang mapan dalam seni rupa kontemporer, termasuk di Indonesia. Pameran Wall Street Arts, merupakan satu langkah awal yang baik untuk memperkenalkan grafiti sebagai sebentuk seni visual yang sejajar dengan genre-genre lain. [V]

 
 
Daftar Isi Majalah Visual Arts VA #34 PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 09 Desember 2009 11:26



2 DAFTAR ISI
4 SURAT REDAKSI
6 GERAI

WARTA PASAR
14 Art Singapore 2009: Antusiasme Pasar Senirupa Asia Tenggara

WARTA KAMPUS
16 ISI Yogyakarta: Menjelajahi Kreativitas dalam Lingkup Kampus
18 Di TIM Para Alumni PTS Bertemu

NASIONAL
20 Oscar Matuloh: Jejak Lintasan Derita
22 Triennale Grafis III: Tak Goyah dari Dampak Boom
24 The Fitting Room: Melihat Karya Mella Jaarsma dengan Kacamata Jawa
26  FX. Harsono: The Erased Time; Bahasa Pembelaan Si Ong
30  Exposigns ISI & Jogja Biennale Jogja: Jejak Kreativitas di Tengah Jam Session
34  Biennale Seni Tradisional Bali: Gairah Baru Capaian Anyar
36  Lyon Biennale 2009: Tamasya Visi Estetika Yang Majemuk
40 Beyond The Dutch: Melacak Jejak Raden Saleh di Utrecht

INTERNASIONAL
44 Art in Village:  Internasional Art Workshop di Yilan, Taiwan

LINTAS INTERNASIONAL

47 Jembatan Asia Afrika
48  Bayi-Bayonet Haris Purnomo di Seatle

FOKUS
50 Artisan, Pembantu Kontroversial
57 Apa Kolektor Tentang Artisan
58 Cantrik, Artisan dan Tukang
62 Asisten dan Artisan dalam Senirupa Kontemporer

SOROT

66 Senirupa dan Tantangan Perguruan Tinggi Seni Hari Ini
70 Indonesia yang Diampu Menilai Kerja Kekuratoran
74 Yang Bersnar di Balik Gempita Art Fair
73 Dinamika Pasar Senirupa Indonesia

TRIBUTE
80 Tiga Meninggalkan Kita


TEKSTUR

82 Melirik (Kembali) Mimetik
86 Sejarah Senirupa Islam, Sebuah Alternatif
90 Seni Lacker: Dari Tradisional ke Kontemporer
94 Penataan Sistem Pengetahuan Senirupa Indonesia
98 Setelah Mangga Pisang Jambu

JALAN-JALAN

102 Angin Sepoi dan Senirupa Manado

PROFIL
106 Sardono W. Kusumo: Menari Bersama Cat dan Memori Visual
110 I Dewa Putu Mokoh: Idiolek yang Membawanya ke Fukuoka


WAWANCARA
114 Simon Tan: Saya Membeli Karya, bukan Membeli Wacana

SOSOK

118 Andonowati & Lawangwangi: Pintu Masuk Senirupa di Bandung
119 Ilusi Ruang Ronald Ventura

122 EKSPRESI
126 AGENDA
128 KOSA RUPA

Iklan-VA-34-email-copy

 
 



images/stories/articles.jpg
Transforming Minds: Buddhism in Art
Kamis, 10 Mei 2012 11:58
images/stories/articles.jpg
KONVENSI NASIONAL SENIRUPA SEBAGAI JAWABAN
Kamis, 10 Mei 2012 11:48
images/stories/articles.jpg
PASAR LOKAL MODAL GO-INTERNASIONAL
Kamis, 10 Mei 2012 11:43
images/stories/articles.jpg
IBU SRI, ANAK IDIOT DAN STATUS QUO
Kamis, 10 Mei 2012 11:36
images/stories/articles.jpg
Paceklik dan Kontroversi di Sekitarnya
Kamis, 10 Mei 2012 11:29


163787krya.gif
Kriya sebagai Seni Rupa Kontemporer?
(hits: 7547)
images/stories/articles.jpg
INDONESIA ART EVENT 08
(hits: 6832)
images/stories/articles.jpg
SURAT PEMBACA 01
(hits: 6669)
images/stories/articles.jpg
SHOP
(hits: 4533)
praktek-seni-rupa-small.gif
Sedikit Catatan Sekitar Seni Patung
(hits: 4152)


Baner


Gerai | Warta Kampus | Nasional | International | Fokus | Tekstur | Mozaik | Photography | Santir | Wawancara | Profile
Jakarta Events | Bandung Events | Indonesia Events
About Us | Surat Redaksi | Surat Pembaca | Subscription | Shop | Advertise With Us | Our Partner | Term of service | Privacy Policy
© 2000 - 2009 Visual Arts - Majalah Seni Rupa