|
VIDEO & ART
|
MEMPOSISIKAN INDONESIA DI ERA SENI DIGITAL |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Jumat, 10 Desember 2010 16:28 |
   | | SELAMA BEBERAPA DEKADE BELAKANGAN INI KITA MENYAKSIKAN SEBUAH PERKEMBANGAN PERADABAN MANUSIA YANG TIDAK PERNAH TERBAYANGKAN SEBELUMNYA. INI TERJADI SEBAGAI AKIBAT DARI BERTEMUNYA BIDANG SENI, TEKNOLOGI DAN ILMU PADA TITIK YANG SANGAT PRODUKTIF. NAMUN JANGAN SALAH, PERTEMUAN INI BUKANLAH PERTEMUAN YANG PERTAMA.
Pertemuan yang pertama terjadi di awal abad ke-20 dengan ditandai oleh munculnya gerakan Futurisme di Italia. Pada tahun 1910, Luigi Rusolo mementaskan sebuah teater-musik dengan memanfaatkan bunyi-bunyian yang merupakan dampak dari teknologi industri. Pada tahun yang sama ia juga menulis sebuah buku berjudul “The Art of Noise”. Dua dekade kemudian Charlie Chaplin membuat sebuah film bisu berjudul “Modern Times”. Film ini merupakan sebuah parodi bagaimana manusia akhirnya harus menjadi korban dari mesin-mesin ciptaannya sendiri. Sekarang kita sudah beranjak persis 100 tahun dari saat terbitnya buku Rusolo yang mencoba menangkap semangat sebuah zaman baru, yaitu zaman teknologi industri, melalui sebuah ungkapan seni. Belum lama ini kita menyaksikan terjadinya kembali sebuah revolusi di bidang teknologi, yaitu teknologi digital. Kali ini revolusi teknologi tersebut tidak hanya melahirkan para seniman yang revolusioner, tetapi sekaligus juga melahirkan bidang seni baru yang bernama New Media Arts. Yang menarik, jika pada revolusi teknologi babak pertama para seniman yang mempelopori munculnya semangat baru di dalam dunia kesenian adalah seniman Eropa, pada babakan yang kedua ini seniman yang menjadi salah seorang pelopornya datang dari Asia, yaitu seniman Korea yang bernama Nam Jun Paik. Dengan menggunakan video kamera Sony Portapak di tahun 1960-an Nam Jun Paik mengembangkan bidang baru yang bernama Video Art. Sekian tahun kemudian, ia menggeluti teknologi video dengan perangkat digital sehingga menghasilkan karya-karya berikut peralatannya yang sangat canggih. Yang sangat penting dari hadirnya Nam Jun Paik ini adalah munculnya indikasi bahwa revolusi teknologi babak kedua ini membuka peluang besar bagi bangsa-bangsa nonBarat untuk berpartisipasi, bahkan menjadi unggul di bidang seni digital. Keunggulan ini pada gilirannya juga akan dapat dinikmati oleh seluruh pihak yang bergerak di bidang industri teknologi digital. Dengan kata lain, dampak ekonomis, sosial, budaya dan politik dari munculnya disiplin seni digital ini sangat luarbiasa bagi masa depan kehidupan bangsa-bangsa non-Barat. Oleh karena itu, dewasa ini universitas-universitas terkemuka di Asia, misalnya NUS di Singapore and Hongkong University di China berlomba-lomba membuka program studi baru yang bernama New Media Arts. New Media Arts (selanjtunya disingkat NMA) pada umumnya dapat diasosiasikan dengan bentuk-bentuk seni yang berhubungan dengan teknologi digital. Namun ini bukan saja sebuah media seni yang baru, tetapi juga sebuah pasar baru yang memungkinkan semua pihak dapat memiliki peluang yang sama dalam memanfaatkan pasar tersebut. Persaingan dalam pasar media seni baru ini akan merupakan persaingan yang lebih adil dan merata karena teknologi digital dan perangkat satelit memungkinkan semua manusia di bumi ini untuk memiliki akses yang sama. Bukti yang nyata dari pernyataan di atas adalah melihat bagaimana dalam beberapa tahun belakangan ini NMA juga telah berkembang di Indonesia. Beberapa seniman Indonesia yang menggeluti bidang ini bahkan mendapat nama yang cukup baik di dunia internasional. Kehadiran mereka di tanah air dapat menjadi dasar dari tolok ukur perkembangan seni media baru Indonesia di arena internasional. Di samping itu, sebagai sebuah negara yang memiliki kekayaan budaya tak terhingga, Indonesia harus berani mengambil posisi yang jelas dalam konteks perkembangan seni digital. Bidang seni digital ini bahkan harus menjadi ujung tombak dari gagasan dan strategi untuk mengembangkan industri kreatif di Indonesia. Dewasa ini perusahaan-perusahan komunikasi raksasa di Indonesia sudah bergeliat untuk mencari muatan-muatan seni digital yang menarik untuk melengkapi peralatan komunikasi yang mereka pasarkan. Di negara maju sudah banyak beredar perhiasan sehari-hari seperti kalung yang berbentuk perangkat teknologi digital. Dengan rendahnya biaya kehidupan, waktu dan tenaga kerja di Indonesia juga menjadi murah. Salah satu yang membuat produk teknologi digital ini dapat dijual dengan nilai dolar yang tinggi di Barat bukan karena mereka memiliki keahlian yang lebih, tetapi justru karena faktor mahalnya waktu dan tenaga kerja tadi. Hal ini telah terbukti dari banyaknya perusahaan seni digital rumahan di Indonesia menerima pesanan-pesanan dari luar. Namun untuk merebut pasar dunia, Indonesia jelas tidak dapat hanya mengandalkan industri rumahan. Pertama-tama, Indonesia memerlukan semacam pusat-pusat pendidikan, penelitian dan produksi seni digital. Setelah itu diperlukan sebuah strategi pengembangan dan pemasaran yang menyeluruh. Dengan demikian baru Indonesia dapat memasuki persaingan pasar global dalam bidang seni digital ini. Dalam rangka merintis jalan ke arah itulah, Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) bermaksud mengadakan sebuah festival dan simposium internasional New Media Arts pada tanggal 28 Januari – 11 Februari, 2011 yang akan datang. Festival yang bernama NMA101010 ini di rancang sedemikian rupa agar dapat menyinggung semua aspek yang dibutuhkan untuk dapat memposisikan Indonesia di arena persaingan pasar global tadi. Salah satunya adalah acara simposium yang akan menjajaki kemungkinan sumbangan semua pihak yang terlibat dalam dunia seni digital di Asia pada era baru ini. Para seniman dan sarjana new media arts dari luarnegeri di datangkan khusus untuk memberi lokakarya dan memaparkan pikiran mereka secara mendalam kepada para aktor Indonesia yang bergerak di bidang ini. Selain untuk mendapatkan informasi yang paling mutakhir, lokakarya dan pemaparan pemikiran mereka ini juga akan berguna untuk mengetahui persoalan-persoalan mendasar di bidang seni digital, terutama yang berhubungan dengan faktor pendidikan dan hak cipta. NMA101010 juga akan menampilkan semua jenis karya seni yang berhubungan dengan teknologi digital. Ini termasuk pertunjukkan multimedia, pameran instalasi, tontonan seni video dan animasi, pertunjukkan sonic art, permainan video interactive, dan lain-lain. Untuk pertunjukkan multimedia akan tampil grup hasil kerjasama negara Afrika Selatan dan Itali yang diwakili oleh Rehane Abrahams dan Anello Capuano. Di samping itu NMA101010 juga akan menyajikan pertunjukkan multimedia dari kota Palu yang di garap oleh Zulkifli Paggesa. Yang menarik, pertunjukkan multimedia ini akan di dasarkan pada naskah Putu Wijaya yang berjudul “Zoom”. Karya Zulkifli ini akan merupakan sebuah penapsiran baru atas naskah Putu Wijaya. Penampilan Zulkifli yang berasal dari Sulawesi Tengah ini menunjukkan bahwa perkembangan seni media baru ini di Indonesia tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, tetapi juga di kota-kota yang jauh dari pusat pemerintahan maupun perdagangan. Pertunjukkan multimedia yang ketiga akan di sajikan oleh para seniman dari Jakarta, Bandung dan Bali yang menggarap sebuah karya berjudul “Road of Chaos”. “Kerjasama” merupakan sebuah kata kunci dari perkembangan seni digital. Dengan adanya dunia maya, kerjasama antara seniman tidak lagi dibatasi oleh posisi geografis mereka. Inilah yang membuat NMA berkembang menjadi bidang seni baru yang sangat dinamis dewasa ini. Kerjasama antar seniman semacam ini tidak hanya membawa pertukaran ide, tetapi juga menyeret latar-belakang budaya masing-masing pihak yang pada akhirnya berdampak di tingkat global. Selain kerjasama seniman antar kota ini NMA101010 juga akan menggalang kerjasama antara seniman Indonesia dan Australia dalam sebuah pertunjukkan sonic art (seni bunyi) berjudul “Pocket Gamelan” karya Greg Schiemer. “Pocket Gamelan” adalah sebuah karya musik digital yang menggunakan berpuluh-puluh alat telefon genggam. Jika manifestasi dari revolusi teknologi pertama tadi di ungkapkan dengan baik oleh Luigi Rusolo dengan peralatan noisenya, manifestasi revolusi babak kedua ini juga akan diungkapkan dengan cemerlang melalui peralatan telefon digital dalam “Pocket Gamelan”. Oleh sebab itu, siapa yang berkesempatan menonton nantinya akan menjadi saksi sejarah dari munculnya peradaban teknologi digital yang baru di abad ke-21 ini. [V] Dr. Franki Raden mengajar mata kuliah “Contemporary Arts and Technology”, “Arts and Ideas” dan “Performance Studies” di Faculty of Fine Arts, York University (Toronto) dan di Performing & Visual Arts Program, University of Toronto, Canada.
| |
|
|
|
|
|
|
Tromarama: Handmade Video Art |
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Jumat, 15 Oktober 2010 15:36 |
   | | Oleh: Natsumi Araki*
“Serigala Militia”(2006) yang saya tonton pada Singapore Biennale II tahun 2008 sangat mengejutkan. Dengan iringan irama heavy metal saya masuk sebuah ruangan dan melihat video animasi, tiba-tiba saya sadar bahwa citra-citra dalam video tersebut dibuat dengan teknik cukil kayu. Ratusan cukilan kayu yang dipasang di dinding menjelaskan bagaimana video tersebut dibuat: satu persatu dipotret. Melalui cukilan kayu tersebut kita bisa membayangkan betapa lama dan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, dan ini seperti antitesa irama heavy metal yang cepat. Pada dasarnya, perpaduan cukilan kayu dan musik metal ini sangat berbeda sifatnya. Antara pop sekaligus sangat kerajinan, futuristik namun klasik, saya tidak pernah melihat karya seperti ini.
Video tersebut adalah video clip grup musik metal Seringai dan pembuatnya adalah tiga seniman muda dengan nama yang aneh: Tromarama. Saya sangat tertarik pada mereka. Ketiga seniman ini alumnus FSRD ITB, Feby Babyrose belajar Seni Grafis, sedangkan Herbert Hans dan Ruddy Hatumena belajar periklanan dan desain grafis. Saya yakin latar belakang mereka inilah yang mempengaruhi perpaduan antara teknis dan selera desain grafis dalam karya ”Serigala Militia” ini.
Video ”Serigala Militia” menggunakan warna hitam sedangkan cukilan dibiarkan warna asli kayu. Outline figur diberi bayangan sehingga bergerak-gerak seolah hidup. Dalam cukilan kayu inilah mengandung dinamika lahirnya kehidupan primitif. Selain itu kita mendapatkan interpretasi yang sangat baru terhadap media cukil kayu. Umumnya cukil kayu dianggap lebih rendah daripada seni lukis karena bisa diperbanyak. Namun di sini Tromarama memamerkan papan kayu ukir itu sendiri. Ia bukan lagi menjadi media untuk mencetak pada kertas, tetapi telah menjadi karya lukis dan juga karya tiga dimensi. Dengan sudut pandang baru nilai akan balik belah, batasan antara pemain utama dengan pemain pembantu akan menghilang.
Pandangan terhadap Benda-benda Sepele
Pada video musik ”Zsa Zsa Zsu” (2007) yang dibuat untuk R.N.R.M. (Rock’n’Roll Mafia), Tromarama menggunakan lautan kancing dan manik-manik. Karya ”banjir warna” ini sangat kontras dengan ”Serigala Militia” dengan ’cahaya dan bayangan’. Warna layar terus berubah merah, pink, ungu, hijau, biru memberikan gerak dalam waktu dan ruang. Keriuhan dari perbedaan sepele warna kancing dan manik-manik menyatu dengan sound electric dari grup musiknya. Tromarama memvisualisasikan irama dengan ”mewarnai” suara dan udara. Sihir Tromarama mampu memvisualisasikan sesuatu yang elektrik sebagai esensi dari band tersebut.
Kreativitas dan perhatian Tromarama terhadap benda dan keseharian sebagai sesuatu yang penting tetapi sepele, kelihatan dalam ”Ting*” (2008). Melalui karya ini mereka lepas dari video musik dan berkarya lebih orisinal. Pemain utamanya adalah mug porselen putih. Seperti karya-karya lainnya, untuk menggambarkan petualangan perabot makan ini, mereka menggunakan animasi dengan melakukan pemotretan satu per satu sehingga membutuhkan waktu lama. Tema karya ini bisa disebut ”bentuk, pola dan cerita”. Pada suatu hari, mug-mug dan piring-piring yang telah bosan digunakan oleh orang setiap hari, kabur dari lemari perabot makan. Mereka melewati pintu dan jalan, bersembunyi, menari-nari di halaman. Karya ”Ting*”, konon memuat perasaan-perasaan pribadi ketiga seniman Tromarama. Awalnya Ruddy bekerja di Jakarta dan aktivitas Tromarama vakum sementara. ”Ting*” adalah karya penting buat mereka karena karya pertama setelah mereka sempat tidak aktif. Tiga jenis mug dalam video ini adalah gambaran ketiga seniman Tromarama sendiri dalam menikmati kebebasan dari pekerjaan rutin. Mimpi dan perjuangan dalam kehidupan yang dialami semua manusia diekspresikan pada karya ini disertai dengan humor Tromarama. Efek suara dalam video ini juga patut diperhatikan. Suara jernih ini, dihasilkan oleh Bagus Pandega dengan menggunakan cangkir porselen berisi air, di mana nada dihasilkan dari banyaknya air di dalam cangkir. Persis cara kerja Tromarama yang halus dan peka. Perpaduan antara suara, irama, dan gerakan menjadi salah satu esensi penting karya Tromarama.
Pasar dan Seni Rupa Kontemporer Indonesia
Akan sedikit digambarkan kondisi seni rupa Indonesia untuk memahami situasi keberadaan Tromarama. Booming pasar seni rupa Asia khususnya seni rupa kontemporer Cina sejak tahun 2000 telah memberikan dampak besar terhadap seni rupa Indonesia. Harga-harga karya seniman Indonesia naik di lelang dan tiba-tiba kolektor yang mencari seni rupa kontemporer Indonesia pun bertambah. Fenomena tersebut tidak terjadi pada tahun 1990 an. Art Fair di Cina, Singapura, Hongkong telah ikut ”merubah” galeri dan seniman Indonesia. Seniman-seniman Indonesia yang kena boom tersebut mudah dilihat dari kehidupan mereka yang heboh dengan membangun rumah mewah dan mengendarai mobil-mobil mewah. Meski demikian, masih ada sedikit kurator dan seniman yang menghawatirkan kondisi tersebut. Selama riset di Indonesia, saya menyaksikan keberadaan museum sangat kurang, sementara pameran di galeri atau ruang alternatif demikian gencar. Sedangkan kurator lebih banyak independent curator yang tidak terikat pada lembaga tertentu. Biasanya galeri bergantung pada kurator sehingga terjadi ikatan yang makin erat antara seniman, kurator, galeri, dan kolektor. Selama tiadanya penilaian karya melalui institusi publik seperti museum, seniman lebih banyak terpengaruh pada koneksi di sekitarnya dan ekonomi pasar.
Dalam kondisi seperti ini, selain posisi di pasar, pameran internasional sangat penting perannya. Seniman sohor Indonesia seperti Heri Dono dan Agus Suwage selalu keluar negeri untuk mengikuti biennale dan pameran-pameran. Munculnya Tromarama dalam Singapore Biennale, menjadi langkah penting karena banyak kurator yang melihat dan ini memperluas lingkup karya mereka dalam sekejap. Bagi seniman yang tidak membuat ”lukisan jualan” untuk kolektor, pameran internasional menjadi salah satu bentuk ruang mediasi.
Senirupa sebagai play ground
Meski menggunakan teknik terbaru yaitu video, Tromarama selalu ngotot dengan kerja tangan. Tetap saja mereka memotret video secara halus seperti membuat kerajinan, menyisakan bekas tangan orang, sesuatu yang terasa low-tech. Untuk pameran di Mori Art Museum, Tromarama membuat karya baru ”Extraneous” (2010) dengan mencoba teknik batik, salah satu kerajinan tradisional Indonesia. Mereka mencelup 210 lembar kain dan kemudian memotretnya untuk video. 210 lembar kain tersebut dipamerkan sebagai bagian dari video instalasi yang mencerminkan perasaan serba beda antara komunikasi virtual di internet dengan dunia nyata. Tromarama mencoba mendokumentasikan persoalan kini yang dialami sendiri melalui kain batik.
Tidak aneh bila karya baru Tromarama akan lebih mengena bila kami mempelajari sejarah batik. Pada dasarnya, warna dan pola batik dikategorikan secara teliti tergantung kasta atau wilayah dan pengaruh budaya yang melingkupinya. Warna dan pola batik mengalami perubahan tergantung adaptasinya dengan berbagai budaya. Mulai dan Hindu dan Islam, Belanda pada jaman penjajahan, pengaruh pola Cina, bahkan Jepang selama masa pendudukan. Dari cara adaptasi tersebut, terlihat jelas bahwa kelenturan atau keluwesan Indonesia lah yang memungkinkan ratusan suku dan budaya bisa hidup berdampingan.
Tromarama juga bebas dan luwes. Mereka menghormati dan menyayangi tradisi hand-made, tidak terlalu mementingkan teknis, dan tidak takut menggunakan metode unkonvensional. Selain budaya tradisi negara sendiri, mereka juga memasukkan budaya pop Amerika dan Jepang, hingga menjadi sesuatu a la Tromarama. Tidak ada formula dan konsep yang rigid seperti konflik high-art dan low-art di Eropa dan Amerika. Barangkali mereka tidak perduli apakah membuat karya ”seni rupa kontemporer” atau hanya berlaku sebagai ”seniman”. Mereka hanya memanfaatkan seni rupa sebagai play-ground spirit, sebuah tempat untuk bebas bereksperimen.
Masa depan mereka sebagai seniman masih panjang, namun saya berharap mereka tetap terus bermain tanpa terikat aturan pasar seni global. Saya rasa itulah khas Tromarama.
* Kurator Mori Art Museum di Roppongi, Tokyo, Jepang
| |
|
|
|
|
|
Ditulis oleh Administrator
|
|
Rabu, 03 November 2010 13:17 |
   | | Vidhyasuri Utami
Bagaimana bila kartun dapat menyelamatkan dunia. Pertanyaan ini terjawabkan saat kita memasuki ruang pameran Bentara Budaya Jakarta akhir Agustus 2010. Dalam pameran Kyoto International Cartoon Exhibition ini, seluruh karya-karya yang dipajang merupakan resep tersendiri bagi skema penyelamatan bumi yang menua.
Kyoto International Cartoon Exhibition ini adalah pameran kompetisi kartun yang diselenggarakan secara reguler sejak pertama kali diadakan di tahun 1991 mengikuti dirumuskannya Protokol Kyoto yang mencanangkan skema antisipasi pemanasan global yang tengah mengancam dunia. Temanya pun serupa, bagaimana kartun melihat perkembangan dampak pemanasan global. Tema tahun ini adalah “What is the best way to develop our planet?” atau apakah cara terbaik untuk membangun planet kita.
Adalah Jitet Koestana dari Indonesia yang dinilai juri memberikan jawaban yang menarik. Sebagai pemenang pertama, Jitet memberikan jawaban yang lugas sekaligus menjawab dua permasalahan --perang dan pemanasan global-- dalam satu karya. Bayangkanlah bila artefak militer dan militerisme adalah jawaban dan ruang bagi permasalahan pemanasan global di mana tank diubah menjadi rimba tanaman rambat yang juga memberikan ruang bagi tumbuh kembangnya satwa (burung dalam hal ini). Itulah solusi Jitet.
Karya Pawel Kuczynski, kartunis dari Polandia, menyedot perhatian juri kali ini. Karya pemenang kedua ini menampilkan kualitas visual yang serupa dengan karya seni lukis sehingga menempatkan kartun pada tempat yang refined, sesuatu yang tidak muncul di dalam ranah kartun sebelumnya. Dalam karyanya, Pawel menampilkan reruntuhan bumi (lingkungan hidup) yang dikembangkan sebagai simfoni oleh manusia bak pemain orkestra.
Martin Honeysett sebagai penerima penghargaan spesial dari juri kali ini mempersembahkan kartun dengan karateristik yang khas. Melihat karya-karya membuat kita bernostalgia dengan buku-buku anak-anak ala Eropa dengan figur-figur berpipi tembam dan detil yang halus. Secara kritis, martin menampilkan bagaimana bumi adalah hidangan utama bagi para petinggi negara-negara besar dunia sementara yang lain digambarkan bak liliput yang berusaha menjangkau meja dari lantai. Sebuah kenyataan politik yang ironis yang harus kita hadapi sehari-hari.
Dalam pengantarnya, Yasuo Yoshitomi selaku ketua komite seleksi melihat bahwa kartun adalha jenis seni yang sukar digambar. Karya kartun dibuat dengan asumsi pada suatu hari akan dicetak sehingga denagn demikian kartun memiliki keterbatasan ukuran (biasanya relatif kecil atau sebesar kerta ukuran A3 atau A4). Tapi keterbatasan ukuran kartun inilah yang sepertinya berusaha dipiuhkan oleh seorang Pavel Taussig. Alih-alih melihat goresan cat air atau tinta di atas kertas, kita mendapatkan foto sebagai kartun dalam karyanya. Ini menarik karena permasalahan ukuran dan media pun berusaha didobraknya. Menampilkan lukisan perempuan bak mural di tank, Taussig memiliki konsep yang serupa dengan karya Jitet hanya saja ia tidak beralih ke alam tapi melihat manusia sebagai jawaban baik bagi perang dan permasalahan lingkungan.
Dari karya kartun “konvensional” lainnya, kartunis asal Jepang, Nakahara Mikio juga m memberikan sebuah jawaban yang menarik bagi pertanyaan yang menjadi tema besar kompetisi ini. Karyanya yang cenderung “gelap” dan membicarakan tentang masalah kematian dikemasnya dengan jenaka. Karya menampilkan prosesi pemakaman di mana yang dimakamkan memegang satu bibit pohon yang nantinya akan menjadi pengganti nisan kubur. Sementara para pelayat pun membawa bibit pohon mereka masing-masing dibandingkan mempersembahkan bung apotong seperti yang biasanya kita lakukan. Manusia bisa melakukan perubahan bagi kelangsungan alamnya bahkan setelah ia mati. Mungkin inilah yang berusaha diwanti-wantikan oleh Nakahara.
Dari 55 negara asal kartunis peserta kompetisi ini, peserta dari Indonesialah yang terbanyak. Dari kartunis media massa yang sudah sering menghiasi halaman media cetak sampai perupa pun ikut serta dalam kompetisi ini. Rudi St Dharma atau yang kerap dipanggil Uday, seorang seniman lukis yang juga sekaligus salah satu penggagas ruang alternatif Rumah Proses, mampu menarik perhatian para juri. Karya Rudi yang unik – menamplkan subyek kesukaannya (semut) yang bergerak menuju sebuah lingkaran yang berasal dari cetakan pantat gelas di atas kertas-- diakui oleh Yasuo sebagai karya yang unik dan sepertinya memiliki makna filosofis tertentu. Dalam pengantarnya pun Yasuo menceritakan bagaimana dewan juri terbelah menjadi dua dalam menilai karya Uday. Di satu sisi, juri melihat karya ini sebagai karya yang menarik dan mampu keluar menjadi pemenang, sementara di sisi lain anggota juri yang lain menilai karya ini bukanlah karya kartun yang sesungguhnya. Sehingga penilaian terhadap karya ini tidak mufakat walhasil karya ini tidaklah muncul dalam jajaran pemenang. Ia juga mencermati karya kartunis perempuan asal Indonesia, Ika W Burhan walaupun menyayangkan kualitas karya sang kartunis yang tidak digambarkan dengan baik. Yasuo pun mengharapkan satu-satunya kartunis perempuan dari Indonesia di ajang ini mampu mengembangkan karya-karyanya di kemudian hari.
Selain Indonesia, kompetisi kartun ini pun didominasi oleh para kartunis Eropa Timur (seperti Polandia, Slovakia, Serbia atau pun Rumania), Asia Timur dan juga Amerika Latin. Rata-rata sebagian besar peserta mampu menampilkan karya kartun yang jenaka sekaligus memperlihatkan kemampuan menggambar yang baik. Detil-detil bak lukisan berukuran besar mampu ditampilkan oleh para peserta dan juga sekaligus menjadi kekuatan karya-karya mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran memang tidaklah menjadi keterbatasan bagi kualitas kartun itu sendiri.
Dengan beberapa “dobrakan” yang disuguhkan peserta kompetisi kartun ini, diharapkan kartun dapat berkembang dan mampu melintasi keterbatasan ukuran maupun tujuan awal kartun tersebut dibuat (semata-mata hanya untuk dicetak). Sekiranya hal ini dapat “dibebaskan” dari seni kartun diharapkan tiadalah tabu untuk menggabungkan seni lukis atau pun seni-seni yang lain dengan kartun kedepannya. [V]
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|